Kamis, 16 April 2020

6 Hari backapacking ke Bali+ rincian biaya (part 1)




Hai! Gimana kabar body di hari kesekian Stay at home guys? Masih ramping atau udah offside kemana mana terutama pipi dan perut? Hehe

Rindu rasanya naik tranportasi antar Kota atau antar Negara. Tubuh boleh saja rebahan  mulu, tapi pikiran rasanya udah menyusun banyak list tempat buat dikunjungi seusai musibah global ini. Karena banyak waktu luang dan mulai jengah menyimak drama korea dilayar HP, here we go, kuizinkan otak dan tanganku lebih produktif untuk menulis di Blog yang udah lama abstain.

BALI! Yass! Maaf banget buat yang pernah nunggu rincian budget dan cerita backpacking ke Bali Januari lalu, baru bisa kutulis sekarang. Semoga bisa jadi referensi liburan kalian setelah Covid-19 mereda dan aman untuk kembali melancong.

11 Januari 2020 – Day 1(Probolinggo-Bali)

Berangkat dari rumah, Probolinggo.  Fajar belum muncul ketika kapal pertama membawa sejumlah penumpang yang bahkan tak bisa kulihat wajahnya satu persatu dengan jelas dalam gelapnya ba’da subuh. Bulan masih benderang diujung barat, bergegas beringsut sebelum tugasnya usai, pergantian shift, pikirku. Sangat jarang aku melihat suasana ba’da subuh diluar. Belum sejam sejak mesin menderu, Pelabuhan Tanjung Tembaga mulai terlihat jelas, Java Power terlihat kokoh dengan latar fajar merah diufuk timur sana. Yihaaa, lets start the journey!

Subuh di Pelabuhan Gili Ketapang, Probolinggo

Dari Kota Probolinggo , kereta Probowangi  membawaku menuju Banyuwangi, dengan tujuan stasiun terakhir diantara batas Provinsi, Stasiun Ketapang. Harganya murah, hanya 36.500(29rb harga tiket, dan 7.5rb untuk admin tiket.com) dengan rentang perjalanan sekitar 5 jam. Berangkat jam 06.44 WIB, kereta tepat waktu sampai di stasiun Ketapang jam 11.45 WIB. Sepanjang perjalanan yang kuniatkan untuk tidur disetengah perjalanan batal karena percakapan dengan orang2 baru yang duduk disamping dan depan kursiku lebih menarik untuk kusimak dan kutanggapi.

Backpack usang yang udah bertahun-tahun ikutan jalan kemana aja

Siang hari di Stasiun Ketapang, kusempatkan sejenak mampir ke Musholla stasiun sebelum melanjutkan jalan kaki menuju pelabuhan Ketapang. Jarak stasiun dan Pelabuhan sangat dekat, yah mungkin sekitar 50 meter, jadi kalian bisa jalan kaki atau bisa juga menerima tawaran dari abang tukang becak. Keluar dari pintu stasiun, berjalan luruslah sekitar 20 meter, kemudian kalian bisa menyebrang jalan Karena pelabuhan ada di sisi yang bersebrangan. Setelah menyebrang, jalan lurus sampai kalian menemukan tulisan pelabuhan Ketapang disebelah kiri. Ah iya, menyebrang tidak bisa pakai cash, kalian harus punya e-money. Kalian bisa memakai kartu indomaret e-money jika punya karena aku pakai itu yang sebelumnya kuisi saldo via m-banking. Bisa beli on the spot di Pelabuhan jika kalian tidak punya e-money card.

Loket e-money sebelum pintu masuk khusus pejalan kaki
E-money Indomaret yang bisa kalian pakai untuk beli tiket

Lorong sebelum loket tiket


Tiket penyebrangan menuju Pelabuhan GIlimanuk Bali seharga 6500. Dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Denpasar menggunakan bis antar kota seharga 40.000. Banyak calo! Hati2 jangan terlihat bego ketika keluar dari Pelabuhan hehe
Sebelum keluar dari kapal, aku ngikut rombongan satu keluarga yang juga jalan kaki dan akan naik bus menuju Denpasar, biar aman nggak jadi mangsa calo. Bis kecil yang melaju sedang itu kemudian mulai berjalan setelah sekitar setengah jam menunggu penumpang didalam penuh. Butuh waktu sekitar 5 jam untuk sampai ke Denpasar. Perjalanan yang cukup melelahkan mengingat jalannya yang cukup banyak belokannya dan angin yang masuk sesuka hati lewat jendela dan pintu yang terbuka lebar. Hari pertama aku bakalan ketemu salah satu sahabatku semasa kuliah, Kokom. Numpang nginep sih aslinya, modus. Kom peace ya wk! Turun di terminal Ubung, karena Kokom ga bisa jemput, akhirnya dipesenin grab sama nih anak menuju kontrakannya di Denpasar selatan. Uwuuu baiknya ancen.

Loket tiket

Cuaca mendung dalam perjalanan menuju Bali
Gilimanuk harbour gate

Terminal Bus Gilimanuk

Bus kecil yang kutumpangi menuju terminal Ubung

Total pengeluaran Day 1
Kapal dari rumah ke Probolinggo Rp 7.000
Becak dari Pelabuhan ke Stasiun Probolinggo Rp 12.000
Sarapan di Stasiun Rp 15.000
Tiket kereta Prob-Bwi  Rp 36.500
Makan siang soto rujak+es jeruk Rp 14.000
Kapal ke Gilimanuk Rp 6.500
Bis ke terminal Ubung Rp 40.000
Antimo+tolak angin Rp 7000
Total Day 1 Rp 138.000

12 Januari 2020 – Day 2(Monumen Bajra Shandi, Plasa Renon Mall, Pura Uluwatu;tari kecak)

Kenalin, Sahabatku, Kokom si model dadakan :)
Mau foto ala2 model, tapi kamera dan fotografernya kurang proper hmmm
Hari Minggu mager. Hari ini belum ada rencana mengunjungi tempat tertentu. Hanya saja sore nanti aku rencananya bakalan pindah ke penginapan yang sudah kupesan di daerah Uluwatu karena hanya menginap semalam ditempat Kokom. Setelah menimbang beberapa opsi tempat buat jalan hari ini selagi nunggu sore, akhirnya aku sama kokom memutuskan untuk mengunjungi Monument Bajra Shandi. Tidak ada tiket masuk untuk ke monument ini, hanya saja ada area tertentu yang kamu harus bayar buat masuk. Ya kalian pasti taulah aku lebih milih yang gratis aja hehe. Hari ini emang sengaja gak ada tujuan jelas, hanya berusaha menghabiskan waktu santai aja sama Kokom karena udah lama gak ketemu. Btw, Monument Bajra Shandi ini adalah sebuah monument yang ada ditengah taman besar, eh luas, yang kata Kokom sering dipake tempat konser dan ramai saat hari Minggu, CFD. Tapi berhubung kita kesana jam 10 an jadi sudah mulai lumayan sepi.

Monumen Bajra Shandi

Beberapa sudut di Monumen Bajra Shandi

Coba sekali lagi, tetep fail fotonya ehehe

Masuk ke dalam area monumen dikenakan biaya, jadi cukup bagi kami melihat dari depan, gratis! wk



Menghabiskan waktu jalan kaki kesana kemari di taman dan mulai bosen, akhirnya kita ke Mall, biar tau gitu Mall di Bali kek gimana. Kata Kokom lagi, Mall di Bali ga boleh lebih dari 2 lantai atau gak boleh lebih tinggi dari rumah ibadah. Wih keren! Jadi makin penasaran ke Mall buat makan #lah emang dasar lagi laper sih. Setelah menunggu gerimis reda, kita jalan kaki dari Monumen Bajra Shandi menuju Plaza Renon mall yang hanya berjarak sekitar 1Km.

Usai dari Plaza renon kita kembali ke kontrakan, siap-siap menuju Uluwatu. Sebelumnya aku udah sewa sepeda motor untuk menuju Uluwatu karena kurang paham dengan transportasi public kesana. Grab pun mahal, jadi kuputuskan sewa sepeda motor dari kontrakan Kokom. Aku sewa untuk 3 hari dan rentalnya bersedia mengantar motornya ke kontrakan Kokom. Oke, setelah pamitan ke Kokom dan Bibinya di Kontrakan, mulai buka google maps untuk sampai ke Penginapan.
Ah iya, aku belum sebutin, aku nginep di Jolie hostel Bali. Janjian sama temen baru dari Cibubur yang kita kenalan dari Couchsurfing, namanya Syifa. Halo Syif! Well dari Ubung, tempat Kokom ke Jl.Uluwatu membutuhkan waktu sekitar 40 menit. Syifa udah beberapa hari di Bali dan udah ada di Jolie hostel dari kemarin.

Rooftop Plaza Renon
Ittadakimas! ditraktir Kokom ehe

Sore hari, ketemu Syifa, tercetus ide dadakan buat nonton tari kecak di Pura Uluwatu. Agak mepet sih emang, tapi akhirnya kita berangkat dengan sedikit ngebut dan nekat. Pertunjukan biasanya dimulai jam 17.00 WITA setiap harinya. Kita sampai di Pura Uluwatu sekitar jam 16.45 WITA. Sayang sekali tidak sempat menikmati view cantik debur ombak besar membentur tebing tinggi yang diatasanya adalah Pura, karena sesampai disana kami langsung lari-lari menuju venue tari kecak, dan eh, membeli tiket sebelumnya dengan sedikit drama. Jadi karena kita lari-lari, sampai dengan terengah, diloket tiket merasa sedih setelah denger harga tiket dari Bli yang bertugas, yang diluar ekspektasi kami.  Budget kami untuk nonton tari kecak adalah Rp 100.000, ternyata diluar dugaan(mungkin udah naik), tiketnya Rp 150.000 tertera dilembaran tiketnya haha. Setelah diskusi beberapa saat bersama Syifa apakah akan lanjut nonton atau ngga, dan kita dengan berat hati berniat merelakan show tari kecak karena melebihi budget, tiba2 ada aja cara Tuhan bantu kami buat bisa tetap nonton tari kecak sesuai budget didompet hehehe(ssttt  caranya rahasia, gabisa kuceritain disini, tanya by dm atau email aja lah nanti XD)

Jangan percaya dengan jepretan kamera, melihat langsung jauh lebih indah daripada foto ini, Suer!

Nonton tari kecak adalah termasuk main destination yang kurencanakan sebelum ke Bali. Terutama nontonnya di Pura Uluwatu, salah satu tempat terbaik dengan latar venue yaitu lautan luas biru pekat yang menghampar dibawah sana, dan background matahari sore hendak berganti malam berwarna jingga. Biru awan berselimut jingga. Rp 100.000 sungguh tak sebanding dengan perasaan amazed nya ketika tari kecak dimulai dan Senja mulai menggelap diatas sana, ombak mulai lebih keras berdebur dibawah tebing tinggi yang menjadi tribun penonton. Aku bisa katakan, ini adalah salah satu momen terbaik diantara seluruh momen backpackingku! Sungguh, satu jam terlalu singkat. Saranku, jika kalian berencana menonton tari kecak di Pura Uluwatu, datanglah lebih awal sebelum pertunjukan dimulai. Karena lokasi Pura ini bener-bener cantik! Pemandangan luar biasa yang harus kamu nikmati sebelum ditutup dengan penampilan tari kecak. Eh hati2 dengan barang bawaan, banyak monyet berkeliaran, yang suka jahil ngambilin barang2 pengunjung.
Sepulang dari Pura Uluwatu, macet mengular oleh karena kendaraan yang keluar dari Pura usai tari kecak usai. Kami mampir di warung makan muslim di jalan menuju Hostel. Hari ini melelahkan namun seru!
Gorgeous!
Syifa dan dua lakon tari kecak yang(kurang) sadar kamera kami XD
Spectacular!
Warna langit berubah perlahan, dan prosesnya terlalu cantik!

Total pengeluaran Day 2
Grab ke Monumen Bajra Shandi Rp 36.000
Grab ke kontrakan Kokom 37.000
Sewa motor 3 hari Rp 90.000(bagi 2 sama Syifa, @Rp 45.000)
Tiket masuk Pura Uluwatu Rp 30.000
Tiket show tari kecak Rp 100.000
Makan malam Rp 5.000
Jolie hostel 3hari 2 malam Rp 148.576
Total Day 2 Rp 401.576


Hujan sejak dini hari hingga pagi. Sampai jam 9 pun aku dan Syifa masih rebahan dikasur masing-masing, belum pula sarapan. Setelah menggenapkan niat untuk bangun dan menentukan destinasi hari ini akhirnya Syifa keluar ke warung dekat hostel untuk membeli sarapan(mie instan tentunya haha). Diluar masih gerimis, Syifa memutuskan berjalan kaki, membawa payungku. Kurang beruntung bagi Syifa, diluar, sebelum sampai warung, dia dicegatanjing tetangga yang menggonggong berkelompok hingga aku harus menjemputnya dengan sepeda motor. Di hostel ada dapur yang bisadipakai,  jadi bisa masak mie disana.

Mie kuah, tempe goreng, kopi dan hujan yang mulai undur diri

Hari ini kita akan ke Tanah lot, setelah cuaca cerah tentunya. Tanah lot cukup jauh lokasinya dari tempat kami menginap, sekitar 1.5-2 jam dengan sepeda motor. Sudah termasuk beberapa kali  salah jalan karena terlalu patuh sama google maps. Ohya, tadi malam kami sempat jalan-jalan ke Sidewalk jimbaran mall dan hanya melihat-lihat karena tak ada minat membeli. Mallnya lumayan sepi.
Sekitar jam 10 lebih on the way tanah lot setelah cuaca cerah. Sampai disana tengah hari. Sayangnya laut sedang pasang jadi gabisa nyebrang kepulau kecil ikonik yang ada di tengah laut itu.

Tidaq bisa kesanaaa, air pasang




Pengeluaran Day 3
Bensin Rp 20.000(Bagi 2 sama Syifa, jadi @Rp 10.000)
Sarapan Mie dan tempe Rp 10.000
Tiket masuk Tanah Lot+parker Rp 21.500
Makan siang(sate gulai) Rp 20.000
Makan malam Rp 10.000
Parkir mall Rp 2000
Total Day 3 Rp 73.500

Bersambung ke postingan selanjutnya yaaaa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar