Minggu, 11 Februari 2018

Day 1 di Ho chi minh city, Vietnam (tidur ‘menggembel’ di Tan Son nhat international airport!)

Emejing Vietnam.
Kalian tahu apa salah satu hal dari sekian banyak hal menyenangkan yang bisa didapatkan ketika kalian travelling around the world? Kenangan, dan bonusnya kau akan tersenyum tiap kali mengenangnya, kapanpun. Itu sih aku, gak tau gimana dengan kalian. Kenapa harus jauh-jauh membuat kenangan Mi? karena kelak aku bisa punya cerita yang lebih ‘overseas’ yang bisa kuceritakan kepada anak-anakku #eaaak
Eh tapi beneran, saat backpacking aku banyak mengalami hal-hal menarik baik itu menyenangkan dan menyedihkan yang menyertai perjalanan. Dan sebenernya juga dari jalan-jalan yang beneran ‘jalan’, itu melatihku untuk tidak cepat mengeluh dan tetap berusaha dalam mencapai tujuan. Apapun tujuannya.
Anyway, cukup segitu aja dulu muqoddimah(kata pengantar)nya, tulisan kali ini bukannya mau ceritain motivasi jalan-jalan kan ya. Mau share cerita perjalanan ke Vietnam tujuannya, jadi mari kita mulai.
Day 1 di Ho chi minh city, Vietnam (tidur ‘menggembel’ di Tan Son nhat international airport!)

City Hall Kota Ho Chi Minh Vietnam (Itu patungnya Uncle Ho)

Penerbangan ke Vietnam delay! Ini pertama kalinya mengalami penundaan jadwal terbang, pihak maskapai gak ngasih tau alasan delaynya sih. Untungnya delay gak sampe dua jam dari semula jadwal awalnya take off jam 23.59 waktu Malaysia menjadi jam 00.25. Akibatnya kami sampai di bandara Tan Son nhat international airport di kota Ho chi minh sekitar jam 00.45 (lah?) kok Cuma beberapa menit? Iyaaa karna waktu di Malaysia dan Ho chi minh selisih satu jam. Malaysia lebih cepat 1 jam dan waktu di Ho chi minh sama dengan waktu di Jakarta(WIB). 

Pertama kali kena Delay!

Tan Son nhat international airport nya kecil, mungkin sama kecilnya dengan bandara juanda Surabaya kali. Proses imigrasi berjalan lancar dan lumayan cepat. Pas melewati custom juga langsung disuruh lewat tanpa melewati scan barang. Hal pertama yang kami lakukan setelah keluar dari custom adalah mencari money changer dan counter simcard yang berjejer di area kedatangan. Kami membawa USD untuk ditukar dengan dong Vietnam (VND). Rate di bandara tidak jauh beda dengan di downtown(menurut review bloger lain), jadi kalian gak usah khawatir dengan anggapan ‘di bandara pasti apa-apa lebih mahal’. Saat menukar rate nya sekitar 0.62 VND untuk 1 Rupiah. Jadi rupiah masih lebih gede nilainya daripada Dong Vietnam. Aku menukar USD 60 dan mendapatkan VND 1.324.000, kalau di rupiahin sekitar Rp  816.000 untuk kurs USD 13600 (wow tiba-tiba jadi berasa kaya wkwk). Beli simcard unlimited seharga Vnd 180.000 untuk dipakai berdua jadi masing-masing bayar vnd 90.000.
Ah iya sampai lupa bilang,  dari tadi padahal nyebut ‘kami’, yang berarti ada barengnya dong gak sendirian lagi hahaha. That’s right, ke Vietnam kali ini barengannya dari anggota Backpacker International namanya Mardiah, kuliah di Depok, mahasiswi ilmu Komunikasi(eh bener gak Di?) semester lima yang akan melakukan perjalanan overland start dari Vietnam-Siemrap(Kamboja)-Bangkok- dan kembali ke Jakarta lewat Kuala lumpur. Nah kebetulan dia pernah share rencana perjalanannya di grup jadi kusamakan aja tanggalnya biar ada barengan ke Vietnam karna I was told you sendirian itu gak asyik, serius. Udah kucobain, beneran gak seru, jangan coba2 juga deh.
Kuy lanjut, sampai dimana tadi? Beli simcard? Iyes, setelah beli simcard dan nunggu dipasangin di hape Diah (red: Mardiah), yang konyolnya beberapa jam setelahnya kami baru inget kalau simcard aseli yang sebelumnya sudah nangkring di hape Diah, pas di ganti ke simcard Vietnam, si Diah lupa ngambil simcardnya (Indosat ya Di kartumu itu) si Diah beberapa kali mengguman “emannya paketan indosatku tinggal 2gb” dan aku cuma bisa biang “hikss puk puk Di” wkwkwkw semoga dapet ganti yang lebih baik ya Di.
Hal selanjutnya yang kami pikirkan adalah “tidur dimana?”. Udah pernah baca ulasan dari beberapa blog sih yang mereka bilang di Tan Son nhat international airport ini tidak memiliki spot khusus ‘ngemper’ aka bobo di Bandara sebaik di KLIA2 atau Changi airport. Tapi berhubung pnerbangan kami memang sampe nya pagi buta begini terpaksa harus tidur di tempat seadanya. Dari area kedatangan kami naik ke lantai 2 arah keberangkatan.  Nah untungnya di lantai 2 sebelum escalator menuju area keberangkatan itu kami menemukan area kosong yang cukup luas dan sepi. Disitu kami lihat ada 3 orang( dua orang udah tidur nyenyak, satu orang bule cewe cuma duduk nyender di samping kopernya. Baiklah kita putuskan bobo disitu, nyari tempat mepet-mepet tiang. Gak tau juga itu area apa, sepi, tapi ada beberapa orang yang lewat dan (pasti) noleh ke kami yang lagi siap-siap pasang posisi bobo. Di saat seperti ini skill “bodo amet” sangat amat diperlukan.  Jadi sepanjang otewe tidur di dekat tiang, udah kayak doa aja kurapalin ‘bodo amet’ dalam hati sambil menjaga muka tetap tertutup jilbab. Sialnya, ditengah-tengah hampir terlelap aku ngerasa ada yang mengamati kami berdua cukup lama (entahlah, kalian juga pasti ngerasa kan kalau ada orang yang natap kalian lama tanpa kalian sadari?). Karena penasaran akhirnya ku intip aja, dan tahukah kalian dua mahluk bocah berdiri mematung sekitar jarak 2 meter dari kami, mengamati dengan seksama dua mahluk yang sedang rebahan dideket tiang. Alamaaak bocah kayak gapernah liat orang tidur bae! Btw itu dua bocah masih napak lantai kok (red: manusia) hahaha dan baru melipir setelah orangtua (kayaknya) mereka memanggil di kejauhan. Oke lanjut tidur sambil merapal lagi ‘bodo amet…bodo amet … bodo amet yang penting tidur’ sampai kebangun lagi jam setengah 5 karena alarm.

Info pentingnya lagi, Bandara ini gak ada musholanya L yang otomatis gak ada tempat wudhu/krannya selain wastafel. Boro-boro kran buat wudhu, toilet aja toilet kering, jadi kuakalin botol kosong (sengaja kusimpen buat refiil air minum) kuisi air di wastafel bar ga pake tissue. Wudhunya di wastafel dengan bonus diliatin sama buibu cleaning servis dan beberapa orang yang kebetulan masuk ke toilet. Mereka pasti mikir ‘nih orang lagi olahraga di wastafel kali yak’ ‘bodo amet! yang penting bisa sholat. Sholat subuh di deket tiang pun diliatin orang-orang yang lewat. Kami gentian sholat subuh. Usai sholat Diah ngajakin makan nasi lemak buat sarapan (tadi di peswat do’I dikasih nasi lemak sama buibu Malaysia yang duduk disampingnya) Alhamdulillah rezeki Diah sholeha . See, ga semua orang di dunia ini baik, tapi orang baik emang ada dimana mana.

Abis sarapan kami langsung turun ke lantai dasar, belok kanan sedikit setelah burger king ke arah pool bus menuju pusat kota. Naik bus nomor 152 dengan tariff hanya Vnd 5000 doing, sekitar 3 ribuan lah. Murah! Dan bisnya pun gak ngetem lama, gak sampe 15 menit udah jalan meskipun penumpangnya cuma kami bedua. Bapak kondektur gk mahir bahasa inggris tapi tetep nyapa kami dengan ramah ‘pham ngu lao street’? maksudnya apakah kita akan menuju pham ngu lao street yang memang udah terkenal sebaga area backpacker di Ho chi minh city ‘yes we want to go there’! si bapak nanya lagi : “Indonesian?” iyes bapak” duh seneng deh langsung dikenali sebagai warga Indonesia dalam sekali liat. Stelah bapaknya ngasih kembalian ke aku, aku bilang ‘Cam on’ (ini bahasa Vietnam yang artinya; Terima kasih’) bapaknya senyuum dan mengoreksi : “Xin cam on” maksudnya, lengkapnya itu Xin cam on untuk mengatakan terima kasih. Ini berasa sambutan ramah dari warga Vietnam setelah sempat dikecewakan sama fasilitas bandaranya. Ada buibu lokal juga yang naik di beberapa halte berikutnya dan dengan ramah membalas tersenyum ramah saat kami menyapa dengan cara mengangguk+tersenyum seperti yang biasa dilakukan orang2 Indonesia di pedesaan. Ah senengnya. Sepagi ini sudah ketemu sama orang-orang ramah di negeri orang.
Sampai di pham ngu lao street masih pagi banget sekitar jam setengah 7, dan toko2 masih pada tutup, sebagian mulai buka. Yaudah kami jalan kaki sekalian pemanasan buat jalan hari ini sembari nemenin Diah nyari tiket bus ke Siemreap dan sekaligus nanya2 harga tiket ke Mui ne. Kami mampir ke salah satu travel agent yang penjaganya mbak2 dan kalian tahu? Mbak2nya yang semula ramah berbalik jadi judes setelah tau kita cuma nanya2 gak jadi beli wkwkw seketika aku kok merasa familiar sama cara marahnya si mbak2 ini ya? Ah…di inget2 beberapa saat ternyata marahnya si mbak mirip amet sama marahnya salah satu dosen ter killer di fakultasku dulu. Maapin ya mbk jadi masuk ditulisanku gini hihihi
Sukses kabor menjauh dari jangkauan si mbak2, kami mencari the shin tourist dan futa bus (rekomendasi dari traveller lain) untuk beli tiket ke Mui ne. setelah muter2 dan beberapa kali dibuat puyeng oleh si google maps akhirnya kami nemu the shin tourist dan memutuskan membeli tiket ke Mui ne untuk jam 13.00. saat itu jam setengah 8 dan kami harus datang 30 menit sebelum jadwal bis jadi kami hanya punya waktu sekitar 3 jam untuk berkeliling ke tempat2 di Ho chi minh! Buset superflash! Namanya juga nekat backpacker hahaha

Kantor The shin tourist di sekitaran Pham Ngu Lao street

Karna waktu yang terbatas jadi kita buru2 menuju spot2 mainstream kota Ho chi minh yang biasa didatangi traveller seperti city hall, post office, gereja notre dame (eh bener ga sih nulisnya?), city opera house, benh than market, dan tak lupa mampir masjid. Tempat2 wisata yang kusebutin ini jaraknya berdekatan kalau tidak nyasar. City hall deketan sama city opera house, kalau post office berdekatan sama gerejanya. Dari post office ke city hall sekitar 1 km. sepanjang perjalanan suasannya rindang tapi harus hati2 karna pengendara motor di Vietnam sangar2 kayak di Surabaya, trotoar mah lewat euy! Jalan kaki ga bakal terasa capek kalau ada temennya dan sesekali minum air, capeknya baru bakalan terasa ntaran hahaha. Tenang ada si koyo cabe kok. Dan jangan sepenuhnya ngandelin google maps, bertanya ke orang bakalan lebih akurat. Eh tapi tipsnya usahakan jangan meladeni bapak2 di jalan yang tiba2 nanyain kita mau kemana karna ujung2nya pasti nawarin ngojek atau ngebecak yang  kebanyakan berakhir scam! Kalau ingin bertanya carilah bapak2 berseragam warna hijau lumut di area2 wisata (pasti selalu ada) mereka ini mungkin emang ditugasin khusus di spot2 wisata. Jika belum sampai di tempat wisata dan susah menemukan bapak2 berseragam hijau lumut, bertanyalah ke turis bule, ini jauh lebih aman daripada bapak2 ojek tadi. Dan pula, kebanyakan orang Vietnam tidak mahir bahasa inggris jadi bakalan lebih jelas bertanya ke turis bule yang bisa kalian mengerti petunjuk arahannya dengan jelas.
Kemarin saat kami kebingungan nyari arah city hal setelah dibuat muter2 kayak biji cabe oleh si google maps, akhirnya kami nanya ke turis bule yang berjalan di depan kami, dia ngasih arahan jelas dan baiknya lagi dia ngikhlasin city tour map yang dipegangnya kepada kami biar ga nyasar2 lagi (tapi tetep aja nanti2 kami nyasar ‘lagi’ dulu sebeum ketemu sama city hall) hahaha That’s oke, ‘nyasar’ emang salah satu seninya backpacking yang harus kalian rasakan.
Belum ketemu sama city hall yang keliatan lebih dulu adalah post office dan gereja! Biklah, kita skip dulu city hallnya. Di post office aku membeli beberapa lembar kartu pos titipan orang. Post office ini indah banget gaya arsitekturnya, sejarahnya, yang bangun(arsitek) post office ini adalah orang yang sama dengan yang bangun menara eifell Paris! Masya Allah, semoga bisa ke Paris someday. Di depan post office lagi rame ada yang foto kelulusan gitu pada pake baju tradisional Vietnam yang cewe, lengkap dengan toga.


Ini Diah, Kufotoin candid di depan post office. Izin nempel di blog ku ya Di :D


Suasana di dalam post office

Dari post office kami buka google maps dan ternyata city hallnya udah kita lewatin sebelum sampe ke post office tadi. Jadi kudu balik kalau mau kesana. Karena searah sama tujuan selanjutnya city opera house).Puas cekrak cekrik dan kerasa lelah, liat jarak tujuan selanjutnya (benh than market) sekitar 2 km! tambah berasa jaooohh dengan kondisi kami yang sudah lelah letih tapi belum lunglai ini. Finally mesen grab yang ongkosnya Cuma Vnd 25000 alias Rp 15 ribuan ke Benh than market. Sekalian mau cari makan siang di sekitar Benh than. Ada kejadian lucu(atau konyol?) saat turun dari grab. Ongkosnya kan vnd 25 ribu, aku bayar pake uang lembaran vnd 100rb, si driver ngasih kembalian vnd 75rb dan langsung ku ambil tanpa kuhitung karna buru2 mau turun. Setelah keluar dari mobil baru kuhitung duit kembaliannya dan ditanganku ada duit vnd 175 rebu! Udah kuhitung bolak balik tetep vnd 175rebu. Sadar si driver lebih ngasihnya, kukejar deh mobilnya yang gak terlalu jauh berharap dia bisa liat dari kaca spion samping kalo ada yang teriak2 ngejar di belakang. Karna kulihat mobilnya jalan pelan dan berhenti sekitar 20 meter di depanku akhirnya aku jalan kaki biasa(dikiranya s driver ngelihat aku ngejar2 dan berhenti nungguin), sialnya tiba2 ada buibu yang masuk dan aku baru nyadar itu mobil berhenti bukannya mau nungguin aku tapi mau naikin penumpang! Wkwkwkwk seketika aku lari lagi tapi gak ke kejar. Tiba2 aku ketawa sekaligus panik dan bingung, ketawa karna keinget adegan2 di drama atau sinetron yang scene ngejar orang di dalam mobil yang berjalan pelan tapi si driver gak nyadar ada yang ngejar di belakang! (kukira itu adegan boongan dan receh banget, sekarang malah kualat kena karma ngerasain sendiri adegannya!) ternyata itu based on true story toh hahahaha
Panik gegara bawa duit orang, dan bingung gimana mau balikin ke si driver. Makan siang pho halal di the Daun restaurant bisa sejenak mengalihkan kejadian tadi. Mungkin setelah kenyang bisa mikir gimana caranya balikin duit lebihannya. 

Lokasinya pas di depan Benh than market


Yummiiiii

Daun2nya kagak dimakan karena harum(like as kemangi dan daun mint and i dont like kemangi)

sumpit mah buat gaya2an aja, aselinya mah makan pake garpu padahal hahaha

Usai makan siang lanjut masuk ke Benh than market beli beberapa titipan temen dan beli gantungan kunci buat oleh2.  Ketemu sama penjual cantik yang kocak dan sangat menghibur. Tawar menawarnya multi bahasa, aku pake bahasa inggris campur Indonesia campur Jawa sedikit2, dia balesnya pake bahasa inggris campur Melayu campur Vietnam! Rasain deh lu bingung!
Dari Benh than market kami berjalan kaki cukup jauh untuk menemukan masjid. Setelah ketemu(karna denger suara adzan) rasanya terharu banget pengen nangis bahagia, serius! Di negara minoritas muslim gitu kalian bakalan bahagia se bahagia nya jika menemukan komunitas muslim dan masjid and this is first time for me dan kalian juga harus nyoba ngerasain gimana gambaran rasa bahagianya. Sholat dhuhur di jamak dengan asar di masjid, lalu sejenak istirahat meluruskan kaki untuk persiapan perjalanan selanjutnya yang masih panjang. Jam 11 siang kami memesan grab dari masjid menuju the shin tourist untuk menunggu jadwal keberangkatan bis menuju Mui ne, kota kecil yang memiliki pantai dan gurun yang cantik like as at middle east! Mui ne we’re coming. Untuk yang sudah membaca cerita perjalanan day 1 di Vietnam: Xin Cam On! day 2 di Mui ne akan segera kutulis dan as usual di bawah ini kucantumkan biaya yang kuhabiskan selama cerita berlangsung di Ho chi minh day 1. Semoga menginspirasi !

Tiket pesawat Kuala lumpur – Ho chi minh = Rp 397.000
Simcard : Vnd 90.000
Bus 152 to pham ngu lao street : Vnd 5000
Grab from city house opera to Benh than market : Vnd 12500
Grab from Masjid  to the shin tourist : Vnd 12500
Air minum : Vnd 4500
Pho halal : Vnd 90.000
Nasi putih : Vnd 25000
Gantungan kunci : Vnd 200.000
Bis from Hcmc to Mui ne : Vnd 99.000

Total Pengeluaran Day 1 : Rp 397000 + Vnd  538.500 (kurs +/- 0.62) = Rp 730.870

Sabtu, 10 Februari 2018

Satu hari keliling Putrajaya, dataran merdeka dan central market

Assalamu’alaikum, selamat pagi.
Its Sunday, dan hari libur ini bakalan kuisi dengan berbagi pengalaman backpacking overseas keduaku karena lumayan banyak yang nanya2. And with pleasure aku bakalan ceritain, karena menulis seperti ini selalu membuatku merasa bahagia J I love travelling around also I love write some experience and sharing everything, jadi ini benar-benar menyenangkan.
Karena kemarin jalan-jalannya di dua negara jadi bakalan kubagi dua bagian, Malaysia dan Vietnam. Cerita di Malaysia kurasa tidak akan kuceritakan detail karena memang tujuan utama jalan-jalan ini adalah ke Vietnam, di Malaysia just spend one day around  Kuala lumpur especially Putrajaya dan Dataran merdeka yang 2016 lalu (first time ke Malaysia) aku belum sempat ke tempat2 ini).

Oke, here we start : Penerbangan Surabaya-Kuala lumpur dijadwalkan jam 20.50 dan landing di Kuala lumpur international airport 2 sekitar jam 00.05 pagi. So then what should I do jika sampai sepagi itu di KLIA2? Tidur di bandara! Sebelumnya aku sudah janjian ketemu sama teman dari Couchsurfing Indonesia di KLIA2, namanya Monik. Monik menghabiskan beberapa hari di Kuala lumpur sebelum terbang ke Sri Lanka untuk magang. Dan di hari terakhir di Kuala lumpur dia janjian sama aku buat keliling sebentar.

View Masjid Jamek dari belakang

Ini nih Monik, untungnya sempet selfie di bis

Turun dari pesawat langsung coba login ke wifi bandara buat hubungin Monik. Ngelewatin imigrasi, Custom scan, keluar dari pintu arrival, aku nungguin monik di sekitar exit 2 dan akhirnya kita ketemu disana. Karena belum sempat makan malam, akhirnya kami menuju foodcourt 24 jam di area L2, makan sebentar lalu menuju Mushola  khusus wanita di area keberangkatan di L3 buat bobo. Sholat isya nya tadi sudah di Jamak ta’dim sama Maghrib pas di Bandara Juanda. Sepertinya mushola ini adalah yang paling luas di area KLIA2, tahun 2016 kemaren aku juga tidur di mushola ini selagi menunggu penerbangan selanjutnya di pagi hari.
Untuk menuju mushola ini naiklah ke L3 area departure/keberangkatan lalu berbelok ke kiri, kalian akan menemukan ada lorong disebelah KK mart dengan petunuk arah di atasnya, nah masuklah ke lorong tersebut maka kalian akan menemukan pintu mushola wanita disebelah kanan. Jangan bayangkan musholanya sepi, di jam2 tidur musholanya bakalan rame sama buibu da mbak2 yang juga numpang bobo disitu sambil nunggu penerbangan selanjutnya atau sekedar menunggu pagi seperti aku sama monik sebelum otewe ke downtown city kuala lumpur.
Ada kejadian lucu yang cukup konyol, aku bangun jam 5, langsung gupuh ambil wudhu dan sholat subuh. Selesai sholat kulihat beberapa orang yang juga bangun tidur dan bukannya gupuh juga ambil wudhu buat sholat subuh, mereka malah masih terlihat santai hapean atau bahkan ada yang malah lanjut tidur lagi. Akhirnya kutanya mbak2 disebelah yang baru bangun tidur dan lagi hapean. :”mbak sudah subuh belum ya?” mbaknya ngeliat jam(masih jam 5) trus jawab ;”belum, subuhannya jam 6” hiaaaaakkk aku langsung pura2 nahan wajah malu sambil nyengir bilang terima kasih. Jadi yang tadi aku sholat apa? Semoga orang-orang nganggepnya yang tadi itu sholat tahajud. Subuhannya double sekali kali gak apa lah, daripada single terus bosen #eh

Anyway, kami baru keluar dari bandara menuju Putrajaya jam 8 pagi. Ohya, disamping mushola ada toilet dan shower room buat mandi. Cari sarapan di luar bandara karena dapat rekomendasi dari anggota grup Backpacker ada tempat makan murah di luar bandara, tepatnya di area parkir taxi. Kalau mau ke kantin ini kalian cukup ke area transportation hub, keluar dari exit 4, belok kiri lalu berjalanlah sekitar 100 meter sampai kalian menemukan area parkir taxi berwarna kuning, nah disitulah kantinnya berada. Kalau bingung tanyalah ke petugas parkir atau satpam yang berjaga di area exit, lebih mudahnya tunjukkan foto kantinnya. Kalian bisa capture foto yang kusertakan di bawah ini. 


Menu prasmanan kantin mumer

Pak bapak semua pelanggannya

 Monik abis refiil air minum

Harganya murah, dan makanannya prasmanan gitu. Aku Cuma sarapan satu roti gede mirip roti Maryam gitu, harganya Cuma 1 ringgit. Minumnya? Refiil dong hihihi. Ada galon refiil air gratis juga di kantin itu, kalian bisa isi botol kosong kalian disitu, aku ngisi 2 botol kosongku disitu buat bekal jalan biar gak haus (serakah amet mbk? Beli roti 1 ringgit doang ngisi airnya sampe 2 botol wkwk) maapin om kantin, ini demi mengirit duit. Ah iya, kantinnya buka 24 jam tapi saat malam hari atau dini hari menunya tidak sebanyak pagi atau siang hari.

Sarapan roti 1 ringgit ini gede banget rotinya(2 kali ukurannya roti maryam kali)
                                                          
Usai sarapan kami membeli tiket klia transit untuk ke putrajaya, counter tiketnya naik satu lantai dari transportation hub, kalo bingung nanya mas2 di deket eskalator. Petunjuk arahnya udah jelas kok. Gak sampai 10 menit kita sudah sampai di putrajaya station,  naik satu lantai atau naik lift menuju putrajaya sentral. Tujuan kami di putrajaya yaitu ke masjid putra. Beli transportation card seharga 20 ringgit(saldonya 15 ringgit) lalu naik bis nomor L15 ke masjid putra. Tiket bus one way untuk satu orang hanya 1,5 ringgit jadi lebih baik membayar cash ke sopir busnya daripada membeli transportation card seperti yang kami beli. Kartunya juga tidak bisa di refund. Kenapa kami beli kartunya? Entahlah, khilaf kali kebanyakan duit wkwkwk (canda, ini temanya backpacker kere kok) anggap aja kami beli kartunya karna terpesona sama bapak2 penjaga counter kartu yang ternyata wong jowo hahahaha

Rute bus L15 to masjid putra

Suasana bis menuju masjid putra

Baiklah, yuk naik bis. Putarajaya ini kota pemerintahannya Malaysia tapi karena hari itu Sabtu, kotanya sepiii banget(atau emang tiap hari sepi we don’t know), dan bersih sih sih sih. Sepanjang perjalanan menuju masjid putra, kami disuguhi pemandangan kantor2 megah pemerintahan yang bahasanya aneh2 (gak mudeng aing), bis juga melewati jembatan gantung indah di atas sungai ala2 Suramadu, lebih panjang Suramadu sih tapi malah jauh lebih panjang penantian nunggui kamu #eh
Btw jangan khawatir salah pemberhentian(seperti saat kamu berhenti dihati yang salah #loh), masjid putra merupakan tujuan utama turis ke Putrajaya, jadi saat bis sampai di area masjid putra kalian bakalan melihat turis dimana mana berarti itulah pemberhentian kalian. Jika kalian tidak memakai jilbab atau tidak berpakaian tertutup, maka kalian wajib memakai jubah khusus warna maroon yang disediakan pihak masjid untuk bisa masuk dan berkeiling di dalam masjid. Karena Monik tidak memakai Jilbab jadi aku harus nungguin dia antre untuk mendapatkan jubah maroonnya. Kalau kalian lapar saat berkeliling masjid putra, turunlah satu lantai di area luar masjid putra, disana ada escalator menuju foodcourt dan toilet. Kalau bingung nyarinya? Seperti biasa, nanyalah ke pusat informasi didepan masjid. Setelah lelah dan hari mulai terik, kami akhirnya putuskan menunggu bis L15 untuk kembali ke putrajaya sentral. Pak sopirnya tadi saat berangat sempat bilang kalau bis L15 bakalan balik ke putrajaya sentral jam 12.45-12.55.

Masjid Putra


Di samping masjid ada sungai cantik

Pintu depan masjid

Ini kayak serambi masjid gitu

yang jubah merah itu turis2

Sampai di Putajaya sentral aku sama monik berpisah karena dia harus prepare untuk flight selanjutnya ke Sri lanka. Kami membeli tiket klia transit di counter, monik membeli tiket ke klia2 sedangkan aku membeli tiket ke KL sentral untuk melanjutkan jalan-jalan di daerah dataran merdeka. See you monik. Semoga suatu saat bisa ketemu lagi sama monik, sukses magangnya ya nik di Sri lanka.
Sampai di KL sentral, aku naik LRT ke stasiun masjid jamek. Beli tiketnya mandiri di loket tiket kayak mesin atm gitu. Pilih tujuan, klik jumlah tiket, masukin duit, trus keluar deh tiketnya. Tiketnya berbentuk koin gitu, aku pernah mencantumkan fotonya di post 2016 lalu.
Tidak lama menunggu, akhirnya sampailah di stasiun masjid jamek, nyebrang jalan karena masjidnya ada dijalan seberang. Karena sudah masuk waktu sholat dhuhur, aku sholat jamak dhuhur dan asar di masjid jamek, sembari nungguin matahari condong dikit ke barat sebelum melanjutkan perjalanan. 

Masjid Jamek tampak depan

Masya Allah mirip di masjid Nabawi ya

Bismillah someday dapat undangan Allah ke masjid Nabawi Aamiin

Masjid Jamek, Kuala Lumpur tampak belakang Masya Allah indahnya
                                        
Sekitar jam 15.00 aku baru keluar masjid menuju daerah dataran merdeka. Di sepanjang jalan kalian akan melihat beberapa gedung cantik dan megah, dari pintu keluar masjid jamek untuk menuju ke dataran merdeka berjalanlah kearah kiri. Selanjutnya ikutin jalan aja, nyebrang di zebra cross setelah gedung  Kementrian pelancongan dan kebudayaan Malaysia (di Indonesia mungkin ini namanya Kementrian parisiwisata dan kebudayaan kali ya), susurilah jalan kearah para turis berjalan, di sebelah kiri kalian akan melihat gedung megah Bangunan Sultan Abdul Samad, sedangkan sebelah kanan kalian terdapat jejeran bendera2 beberapa negara. 

Jalanan menuju dataran merdeka(minta tolong fotoin ke orang yang lewat hihi)


Kementrian Pelancongan Malaysia(kementrian pariwisata sih kalo di Indonesia kali)


Gedung KPK nya Malaysia

Masya Allah megahnya

Sekitar 50 meter kalian akan sampai di Kuala Lumpur city gallery yang didepannya ada ikon tulisan I Love You eh bukan, tulisan I Love KL maksudku. Kalau lagi sepi kalian bisa foto2 di depannya, pas aku kesana ramenya Naudzubillah, panasnya juga Masya Allah… akhirnya aku nyerah Cuma nge videoin tulisan ikonnya dan berjalan kembali menuju central market (pasar seni) buat cari makan siang yang kesorean. Dari Kl city gallery ke pasar seni sekitar  100 meter kalo ga nyasar, kalo nyasar bisa 1000 meter. Kalau jalan sama pasangan kusarankan sengajalah nyasar 1000 meter biar bisa lebih lama jalan gandengan tangan sambil liat liatan dan ketawa cekikikan karena jalan sendirian 1000 meter ditengah nyelekitnya matahari sore, belum makan siang, ditambah backpack berat dipunggung dan tanpa internet buat minta bantuan maps itu sungguh tidak lucu gaes. kalau jalan sendirian  kalian juga harus siap sksd sama turis2 lain biar bisa minta tolong difotoin, yakaliii fotonya selfi semua kalo ga difotoin.


I Love (You) KL

Oke, setelah melewati lembah kenyasaran dan merenangi lautan pasangan cekakak cekikik di kanan kiri, finally aku sampai di pasar seni. Keliling liat2 di lantai satu bentar, langsung naik ke lantai 2 menuju foodcourt. Banyak stan makanan di foodcourt ini, aku keliling dulu dari ujung ke ujung buat nentuin makan apa (pilihannya ternyata stan di ujung yang pertama kali kulihat) ya elahh muter-muter akhirnya milih yang di awal terlihat. Makan tomyam seafood, telor ceplok, semangka, tumis kangkung,  dengan tambahan duduk sendirian. Bodo amet lah, makanannya juga tetep lezat. Total makan 13 ringgit tapi setelah ngobrol ngalor ngidul ama pemilik stan makanannya yang ternyata orang Magetan, ibunya nge charge makanannya cuma 10 ringgit hahayyy Love you buk semoga rezeki ibu lancar jaya
pintu belakang central market


warungnya buibu Magetan yang baik(ibunya yg jilbab biru lagi masak)

Selamat (makan) sendirian

Pintu depan central market(pasar seni)

Jalan legendaris kasturi walk

Karna hari sudah hampir petang, waktunya balik ke bandara. Setelah dari pasar seni aku balik menuju stasiun masjid jamek, ah iya, sebelumnya aku sempat mampir ke money changer di pasar seni lantai 1, tapi rate nya mahal, sekitar 3500 an untuk 1 ringgitnya. Gak jadi nuker deh. Sari stasiun masjid jamek menuju KL sentral by LRT. Mesin tiket LRT hanya menerima uang lembaran 5 ringgit ke bawah, saat itu aku hanya punya 10 ringgit dan orang disebelah menyarankan menukar duit pecahan di counter stasiun. Gak sampai 10 menit sampailah di KL sentral. Dari KL sentral ke bandara kamu bisa naik bis seharga 12 ringgit. Sebelum beli tiket bus aku nuker duit rupiah ke ringgit di money changer. Rate nya murah, gak sampe 3400 an seingetku. Money changer ini ada disebelah kanan eskalator yang menuju ke Nu sentral mall. Sekitar 10 meter. Sebelum money changer kalian akan melihat ada loker penitipan luggage. Kalo bingung? As usual, nanya ke satpam yang berjaga di kaki eskalator. This is the end of my one day experience di Kuala lumpur. Aku sampe di bandara sekitar jam 18 dan ketemuan sama partner travellingku untuk di Vietnam. Penerbangan ke Vietnam jam 23 nanti. See di next cerita tentang perjalanan di Vietnam. Di bawah ini bakalan ku cantumkan rincian pengeluaranku selama di Malaysia seharian. Semoga bermanfaat.

Tiket pesawat Surabaya – Kuala lumpur : Rp 439.000
Makan malam di foodcourt Klia2 : RM 12.6
Breakfast roti : RM 1
Klia transit from klia2 to Putrajaya : RM 9.4
Transportation card putrajaya : RM 10
Klia transit from putrajaya to KL sentral : RM 14
LRT dr KL sentral ke St. masjid jamek : RM 1.6
Makan siang kesoran di pasar seni : RM 10
Toilet : RM 0.5
LRT dr st.masjid jamek ke KL sentral : RM 1.6
KL sentral to Klia2 by bus : RM 12
Makan malam di fooudourt : RM 8.7

TOTAL : Rp 439.000 + RM 81.4 (kurs 3400) = Rp 715.760 

Senin, 22 Januari 2018

Liburan singkat di Jogjakarta

Agustus 2017.
Ini kali keduaku mengunjungi Yogjakarta. Pertama kali pada Januari 2015 silam. Mampir hanya satu hari 2 malam setelah menyelesaikan PKL di Kepulauan Seribu. Kali ini ke Jogja bareng sama Ninik dan Dewi ( we call her ‘beb Dewi) mereka salah dua dari 8 teman akrabku di kampus dulu (ceileh ‘dulu’? baru juga taon kemarin lulus kuliah)— tak apalah, biar terkesan udah lama lulus kuliah tapi anehnya sampai sekarang masih aja jomblo #LOHCURHAT

Anyway, karna kita bertiga udah mencar tempat kerjanya (Ninik kerja di Surabaya, Beb Dewi di Banyuwangi dan aku di… hatimu ada nggak?) eaakkk. Jadi kita sepakati meeting point nya di Surabaya, lagian juga keretanya start dari stasiun Gubeng. Kami ngambil jadwal kereta jam 8 pagi, sampai Jogjakarta sekitar jam 2 siang. Very excited, sepanjang perjalanan di kereta, di depan kami duduk satu keluarga (seorang ibu dan tiga anak lelakinya yang masih kecil2), yang anak-anak nya super aktif sampe perjalanan sekitar 6 jam gak berasa.
Setibanya di Jogja hal yang pertama kami pikirkan adalah : MAKAN! Hahaha sumpah laper amet, di kereta mau beli pop mie sama kopi kutahan tahan karna prinsipku adalah : kalau naik kereta, pop mie kari ayam beserta kopi cocoknya dibeli dan dimakan pada perjalanan malam, kalo siang empet aja deh tuh laper! Yes dan senengnya, aku sukses mempengaruhi ninik dan beb Dewi  dengan prinsip sesatku.
Setelah mengamati (red:jalan dari ujung ke ujung) penjual makanan di depan stasiun Lempuyangan,mencari makanan yang sekiranya cocok, nyampe warung yang paling ujung kira malah balik lagi ke titik awal setelah dirasa ga ada yang cocok (buset ini mah kebiasaan banget kalo lagi cari makan diliatin semua ujung2nya cocok sama makanan yang pertama kali diliat), akhirnya kami duduk di depan kios jus buah yang kebetulan ada tukang siomay gerobak keliling yang lagi mangkal, daripada makan gudeg( kebanyakan warung jualnya gudeg, yakali its Jogja! padahal aku ngarepnya ada yang jaul rawon *dasarhambaarawon). Karena udah laper banget akirnya pesen deh tuh siomay. Setelah urusan perut usai, kami jalan beberapa puluh meter kearah kanan dari pintu kedatangan stasiun buat cari uber karna di depan stasiun udah ada tulisan warning : “Area bebas transportasi online!” Setelah dijemput bapak2 uber kami menuju hotel tempat kami menginap. Namanya hotel MITRA, lokasinya strategis banget dideket KM 0 Jogjakarta. Deket juga sama jalan Malioboro (dan ini kita ga sadar kalo deket). Setelah check in selesai kami diantar mbak2 resepsionisnya yang ramah ke kamar di lantai 2. Sekitar 1 jam kami istirahat di hotel. Sore itu rencananya kami mau ke taman sari, udah mepet banget jam 4, aku search sih katanya udah tutup jam segitu tapi tetep kekeuh aja kesana daripada bengong di hotel, lagian liburan kali ini flashpacker banget cuma 2 hari 1 malam. Menuju taman sari kami naik uber, praktis dan murah banget naik uber kemana mana disini karna tempat wisatanya juga berdekatan. 


Candi Prambanan

Tamansari, gegara spot fotonya antre jadi kita selfie ajalah(bilang aja gak sabaran)

Mural sepanjang perjalanan ke taman sari

Malamnya kami memutuskan untuk jalan2 di Malioboro dan niat mau makan malam di Angkringan cak man yang terkenal itu. Sebenarnya malam ini ada temenku yang kuliah di Jogja nawarin buat nonton acara kesenian gitu, kebetulan dia jadi panitia, tapi berhubung kami bertiga lebih tertarik nglayap di Malioboro yaudah akhirnya kutolak tawaran temenku. Saat pertama kali ke Jogja, ke Malioboro Cuma sempet foto di plang namanya aja karena pas itu udah dinihari jadi toko2 pada tutup, nah kali ini berasa banget ‘Malioboro’ nya, apalagi jalan sama Ninik dan Beb Dewi (they are the best travelmate for me), Jogja rasanya tidak akan pernah terasa bosan untuk dikunjungi berapa kalipun. 
Yeay we're at Malioboro

Amati bapak2 dibelakang


Love this pict!

Ku kayak mbaknya mereka gak sih padahal yang paling bontot ahhahaha

Setelah berasa laper akhirnya kita makan di angkringan Cak man, bego nya kita kesana naik Uber padahal dari Malioboro ke angkringan cak Man deket banget bisa jalan kaki! Hoeel berasa kaya. Ohya, saranku kalau kalian mau makan di angkringan gitu sebaiknya bawa temen cowok, karna pas kita bertiga kesana berasa cewek tangguh banget bertiga makan di angkringan yang notabene pembelinya kebanyakan cowok hahaha bodo amet lah gak kenal juga ini. Sebelum balik ke hotel malam itu kami sempatkan membeli bakpia buat oleh2 takutnya besok gak sempet ke toko oleh2.

Keesokan paginya,karena kasur hotel terlalu empuk dan hayati lelah, jadilah rencana jalan2 pagi disekitaran hotel batal, magnet kasur terlalu kuat yasudah kita pasrah ngikutin maunya kasur (alasan amet lu nyalahin kasur). Jam setengah 9 temenku  jemput kami ke hotel. Sebelumnya kami check out dulu tapi nitipin ransel di resepsionis. Tujuan hari itu adalah candi prambanan, karna sebelumnya first time ke Jogja belum sempet ke Candi Prambanan, cuma ke candi Borobudur. 
Sebenarnya masih banyak list tempat yang ingin kami kunjungi di Jogja, berhubung waktunya sempit jadi hari ini rasanya waktu kami hanya cukup buat jalan2 di candi prambanan aja karena jam 7 malam nanti kami sudah harus balik ke Surabaya. 



kudu sabar ngantri nih buat foto disini

Ini didepan kami banyak orang2 nungguin kami foto makanya keliatan sepi

Karna berasa terik banget, sekitar jam 12 siang kami memutuskan udahan di candi prambanan dan berniat cari makan. Temenku ngajakin makan di Sate pak Pong. Okelah cus akhirnya kesana (dan ternayat lumayan jauh dari candi Prambanan). Tempat makannya rame banget, kata temenku disitu emang terkenal dan selalu rame. Pantes aja, kita mesennya aja sekitar 40 menit baru pesenannya dateng, dan diberi waktu maksimal 1 jam buat habisin makanan saking ramenya dan tempat duduknya limited. But worth it banget, sumpah satenya bikin nagih, tongseng, gulai, semuanya lah. Sayangnya menu andalan selain sate (tengkleng) habis padahal kami udah ngiler liat orang meja sebelah makan tengkleng penuh semangat. Daaan saat menulis inipun akuu harus nelen ludah bayangin tengkleng. Anyway, tengkleng itu semacam iga daging kambing yang empuk banget yang dibumbuin apalah sampe keliatan maknyus (deuhhhh ampuun ngiler lagi)  sudahlah kusudahi bahasan tengklengnya daripada ninik baca blogku dan langsung nge tag instagramku di foto2 tengkleng pak pong hahahaha
Ter lezaaattt sate klatak dkk minus tengkleng kesayangannya si Ninik

Sebelum balik Surabaya kami masih sempat mampir ke Mirota dan ke toko bakpia(lagi) gegara tergoda bakpia Durian. Sempat liat karnaval juga di depan hotel saat mau ambil tas di resepsionis. Thanks a lot buat temenku yang seharian nemenin kami bertiga. Karna dia masih ada acara di Kampusnya jadi gak bisa nganterin kami ke stasiun. Akhirnya kami naik uber ke stasiun dari UGM. Kami sampai di Surabaya sekitar jam 1 Dini hari dan langsung cus ke kos ninik naik Grab car. Okeee that’s all cerita flashpacker kami di Jogjakarta. Terima kasih untuk setiap memori yang kita rangkai bersama, Nik, Beb. Thanks juga menuruti kesesatanku makan pop mie kari ayam dan kopi di restorasi kereta di perjalanan pulang (yah walaupun yang minum kopi cuma aku doang, kalian mah pecinta coklat). See u on the next trip.